Tampilkan postingan dengan label Saduran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saduran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2016

Perbedaan In Motion dan Taking Action: kesibukan yang menghasilkan dan tidak.

   Beberapa hari yang lalu, salah satu teman di facebook share link dari medium.com berisi tulisan dari James Clear. Tidak ada hal yang baru dari penjelasan James, namun yang menarik dia memisahkan dengan jelas dua hal yang dalam keseharian kita kelihatannya sama, kesibukan: yang tidak menghasilkan apa-apa dan yang menghasilkan sesuatu. Karena satu dan lain hal, tulisan ini juga dapat terjadi pada saya dan teman-teman sekitar, saya pikir saya dapat tulis ulang. Berikut saduran dari tulisan tersebut: the mistake smart people make. 


   Kesalahan yang dibuat orang: In Motion vs Taking Action.
   *untuk menghindari kesalahan pemahaman, kata 'motion' dan 'action' tidak diubah*

   Motion vs Action
  Sederhananya, Motion adalah ketika kamu sibuk atau asyik melakukan sesuatu, tetapi pekerjaan tersebut tidak pernah menghasilkan apa-apa atau mengakibatkan sesuatu berubah. Action, sebaliknya, kebiasaan yang menghasilkan sesuatu. Contohnya: Pertama, Jika aku memikirkan atau membuat garis besar 20 ide artikel untuk aku tulis, itu motion. Jika aku memang menulisnya dan publish sebuah artikel itu action. Kedua, jika aku mencari informasi perencanaan diet yang lebih baik dari berbagai sumber dan mencatatnya, itu motion. Jika aku makan makanan sehat dan berolahraga itu action. Ketiga, jika aku belajar untuk persiapan ujian itu motion. Jika aku ikut ujian, itu action.
   Kadang motion bagus karena memungkinkan kita untuk mempersiapkan strategi dan mempelajari sesuatu. Tapi motion tidak pernah dengan sendirinya membawa hasil yang diinginkan. Tidak peduli seberapa banyak ide yang dimiliki, tetapi jika tidak ditulis dan dipublish maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Begitu juga jika hanya mencari informasi rencana diet yang baik dan jika hanya belajar tanpa melakukan ujian sesungguhnya. 

  Jika motion tidak menghasilkan kenapa kita masih melakukannya?
 Kadang kita melakukannya karena memang kita butuh untuk merencanakan dan mempelajari sesuatu. Tapi lebih lanjut lagi, kita melakukannya karena motion membuat kita merasa telah melakukan progress atau langkah lanjutan tanpa menghadapi resiko kegagalan. Kebanyakan dari kita ahli menghindari kritik. Tidak baik untuk gagal atau dihakimi secara umum, jadi kita cenderung menghindari situasi yang mungkin terjadi. Dan alasan terbesar kenapa kita terpeleset kedalam motion daripada melakukan action: kita ingin menunda kegagalan.
  
  "Ya, aku ingin membuat tulisan yang bagus. Tapi, aku takut ideku terlalu sederhana atau terlalu aneh."
  
  "Ya, aku ingin mengurangi berat badan. Tapi, aku tidak mau terlihat aneh makan makanan yang sehat atau melakukan olahraga sendiri seperti anti sosial."
  
  "Ya, aku ingin nilai baik untuk ujian. Tapi, aku tidak mau melewatkan acara tv kesayangan atau berkumpul dengan teman-teman."

   Mudah sekali untuk melakukan hal tersebut dan menyakinkan diri bahwa kita bergerak kearah yang benar. "Aku sudah punya 20 ide sekarang. ini bagus. setidaknya ini bergerak kearah yang benar. Aku sudah tahu tiga cara terbaik untuk melakukan die. Aku sudah belajar beberapa buku untuk ujian besok". Motion membuat kita merasa sedang menyelesaikan sesuatu. Tetapi sebenarnya, kita hanya sedang mempersiapkan sesuatu untuk diselesaikan. Dan ketika persiapan berubah menjadi penundaan, kita perlu mengubah sesuatu.

  Ide untuk melakukan Action
  Ada banyak cara untuk melakukan action, tetapi dari pengalaman penulis ada dua cara: Pertama. Persiapkan rencana untuk action: "Setiap senin saya akan publish satu tulisan". "Setiap siang saya hanya makan makanan tanpa MSG". "Seminggu sebelum ujian, belajar di kamar adalah prioritas". Dengan cara tersebut kita akan lebih mencintai apa yang kita lakukan. Kita akan lebih senang pada hari senin, karena akan ada sesuatu yang akan saya hasilkan. Dan itu baik. 
  Kedua, tentukan tanggal untuk mengubah motion menjadi action. Untuk beberapa tujuan besar memang butuh motion dan action kecil diawal. Misalnya ingin menulis buku, ingin menjadi binaragawan atau ingin masuk ke kampus terkenal nantinya. Tetapi semua itu butuh motion dan action yang mendetil. Paksakan diri untuk menyelesaikan motion dan membuat action dengan 'hard deadline'.

---
  Setelah membaca tulisan James Clear diatas, saya pikir membaca dan menulis kembali artikel tersebut bagi saya adalah motion. Jika hanya membaca tanpa melakukan maka kita sedang menambah informasi yang sebenarnya kurang berguna dan akan lupa jika tidak diaplikasikan (take action). Dan kita kedepan dengan mudah jenuh mendapatkan informasi sejenis ini. Otak kita secara tidak sadar akan menolak tulisan motivasi yang mengubah sudut pandang kita, karena dulu ketika kita pernah membaca tulisan yang tujuannya mengubah cara pandang kita tetapi tidak melakukan atau mencobanya, kita kemudian akan merasakan penyesalan, rasa bersalah dan terpuruk. Dan dikemudian hari ketika kita kembali ke kehidupan biasa, dan menemukan lagi artikel seperti ini, otak kita akan melakukan penolakan, karena dulunya tulisan seperti ini memunculkan penyesalan. 

  Bicara tentang Motion, menurut saya kita butuh informasi yang baik dan berkualitas dan seminimal mungkin sedikit distorsi untuk tujuan kita. Sebenarnya mudah untuk menemukan mana informasi yang baik atau tidak, yang berkualitas atau tidak dan mana yang murni informasi dan mana yang menyertakan tendensi. Media sosial adalah contoh sempurna untuk ini. Kita dengan mudah untuk menemukan informasi yang buruk dengan kualitas abal-abal dan sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Ketika kita menambah pengetahuan(motion) kita dengan informasi seperti ini, kita akan salah untuk menentukan sikap dan sebenarnya akan berbenturan ketika kita melakukan action. Mudahnya, jika kita menemukan informasi dan bingung apakan ini baik, berkualitas dan tidak ada tendensi apapun, aplikasikan saja dengan take action, dengan apakah dia akan berbenturan? apakah menuju kearah yang lebih baik? dan apa yang bisa kita tarik dari sana. Menyambung dengan contoh diatas, jika kita menemu informasi diet ekstrim dan bingung apakah informasinya baik dan berkualitas, sederhananya, praktikkan, dan dalam mempraktikkannya lihat apakah ada yang salah dirasakan? apakah berbeda dengan kaidah kesehatan yang sudah ada?. Jangan terbiasa mencari pembenaran, confirmation bias bisa menimpa siapa saja.

  Dengan membaca artikel diatas, kita tentu tidak alergi dengan motion, action juga sepenuhnya dipengaruhi oleh motion, entah itu kita secara sadar atau tidak menyerapnya dan menambahkannya ke dalam nilai-nilai yang kita pegang.  Motion meminimalkan kegagalan yang tidak perlu. Motion dapat berperan sebagai modal untuk mengantisipasi hal tidak terprediksi kedepan, atau sebagai bahan untuk melihat masalah lain dari sudut pandang berbeda.

Action tanpa motion yang jelas tentu tidak baik, kita bisa saja jenuh dan tanpa arah melakukan sesuatu. Misalnya kita ingin menyelesaikan marathon dan kita langsung take action dengan mengikuti acara lari tanpa pernah belajar dari cara orang lain mempersiapkannya. Kadang memulai dengan in motion bisa gagal karena langsung mengambil langkah besar.  Motion juga mengurang keraguan dalam hati, keraguan dari dalam hati bahwa masih ada cara yang lebih baik diluar sana (makanya perlu perluas relasi informasi) dan keraguan dari luar, seperti pendapat orang yang menilai sinis terhadap action kita. Kita harus terbuka untuk saran dan perubahan, sembari mengambil langkah pertama untuk motion yang sudah kita pelajari.
***


Minggu, 28 Agustus 2016

Why The Joker is the best opponent for The Dark Knight (Batman)

 

Ada banyak villians(penjahat) psikopat pada film super hero, baik yang rumit atau yang plot twist dalam membuat kekacauan. Tetapi dari sekian banyak itu, ada yang spesial dengan Joker, khususnya dalam film Batman: The Dark Knight. Karena perlu dipahami, menempatkan karakter Joker pada sebuah film tidak serta merta membuat film tersebut bagus. Heath Ledger is exceptionally good in leading his character.

  Berikut saduran dari chanel youtube: Lesson from Screenplay (The Dark Knight — Creating the Ultimate Antagonist)
   
   Ketika tokoh antagonis membentuk hero.
  Tokoh protagonis(hero) dan ceritanya menjadi lebih menarik dan membawa emosi penonton ketika kekuatan peran antagonis besar. Peran antagonis harus kuat(powerful). Semakin sulit perjuangan hero semakin menarik ceritanya. Tapi itu agaknya samar, apa maksud dari 'antagonis yang kuat'?
  Antagonis yang kuat adalah peran  yang memiliki memampuan sangat bagus untuk memunculkan kelemahan terbesar seorang hero dan Joker punya kekuatan itu. Batman adalah hero yang mengalahkan musuhnya dengan 'mengintimidasi'. Batman menggunakan kekuatan dan teknologi untuk mengalahkan musuhnya dan joker punya cara untuk mengubah kekuatan tersebut menjadi kelemahan. Seperti ketika Joker menangkap Rachel dan Harvey Dent. Joker mengubah kekuatan batman menjadi kelemahannya. 

   Joker tidak takut mati dan sebenarnya dia ingin Batman melakukannya, tapi itu tidak terjadi karena aturan pertama moral Batman adalah tidak membunuh orang dan itu yang dimanfaatkan Joker. Joker semakin banyak membuat kekacauan dan menimbulkan korban untuk mewujudkan niatannya. Joker menyadari bahwa nilai moral yang dibawakan Batman adalah kelemahan. Karena hal yang bisa membuat Joker berhenti adalah membunuhnya, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Batman, tapi bisa saja oleh Harvey Dent. Oleh karena itu didalam adegan rumah sakit, saat Joker memberikan senjata pada Harvey Dent untuk membunuhnya, Joker sebenarnya tidak memberikan kesempatan atau pilihan, dia mengeluarkan sifat asli Harvey dengan menekannya. Joker sebenarnya memegang pelatuknya (tidak akan mungkin tertembak). Dia tahu Harvey Dent tidak punya aturan moral untuk tidak membunuh orang sama seperti Batman.

   Tapi tujuan joker bukan hanya untuk melawan batman, tapi ingin menunjukkan jati dirinya Joker di Gotham. Chaos. Tujuan lainnya, Joker ingin menunjukkan bahwa setiap orang akan muncul sifat aslinya ketika dipaksa untuk memilih di situasi tertekan. Joker paham satu hal dengan sangat baik. Karakter sebenarnya seseorang terungkap ketika dihadapkan pada pilihan dibawah tekanan. Semakin besar tekanan semakin besar ilham yang didapat dan semakin kelihatan karakter moral seseorang. Itu yang terjadi dengan Harvey Dent, Joker membuktikan idenya kepada Batman. Sifat asli Harvey Dent kelihatan, dia punya ego besar. 

  Joker juga sangat pandai menekan Batman, dengan berbagai konflik dan banyaknya korban, memaksa penduduk gotham untuk  membenci Batman. Kekacauan yang dimunculkan Joker dibuat seolah-olah itu adalah akibat Batman,  hingga Batman tidak sanggup lagi menahannya. Joker memaksa Batman untuk menjawab pertanyaan: siapa dan apa yang dia pedulikan ketika Batman sedang tertekan? Batman dipaksa untuk menghadapi 'the true his self'. Gotham atau egonya sendiri. Rachel atau Harvey Dent.

  Joker adalah lawan yang sepadan dengan Batman
  Bagaimana caranya untuk tahu bahwa seorang hero cocok untuk penjahat tertentu. Jika dipikir, Joker cocok untuk Batman, tapi tidak untuk Star Wars atau Superman. Hal ini karena kecocokan lawan konflik memiliki satu kunci: bersaing untuk tujuan yang sama antara protagonis dan antagonis. Mereka harus saling berkonflik secara langsung sepanjang film.  Batman dan Joker punya kesaman mereka ingin sesuatu di Gotham. Batman ingin harapan dimana kota tanpa kekerasan untuk hukum dan perintah dan joker ingin kekacauan dan merusakan tatanan hidup penduduk. Mereka sedang membangun ide mereka masing-masing. 

  Batman sebenarnya tidak berlomba mengalahkan waktu untuk menghentikan alat penghancur penjahat.(seperti pada kebanyakan film superhero: menyelamatkan umat manusia). Contohnya, Ketika ada bom di kapal, Batman dan Joker tidak berlomba untuk menyelamankan penumpang. Mereka berlomba untuk menenangkan jiwa Gotham, apa yang mereka ingin wujudkan di Gotham. Taruhannya bersifat pribadi. itu saja.

   Apa fungsi utama joker?

  Alfred ingin mengingatkan batman bahwa tidak semua penjahat itu memilik alasan logis untuk sesuatu misalnya uang. Mereka ini tidak dapat dibeli, diintimidasi atau bernegosiasi. "Some men just want to watch the world burn". Itulah yang akhirnya dipelajari oleh Batman dari Joker. Batman  berpikir bisa menghentikan Joker karena ada alasan dibaliknya, seperti uang. Tapi dengan bertemu Joker Batman menjadi lebih bijak. Dia akhirnya sadar bahwa dia punya batas. Dia bukan hero. 

You either die a hero, or you live long enough to see you become the villain. I can do those things because i am not a hero. I'm whatever Gotham needs me to be.

   Batman menjadi the Dark Knight karena Joker. Dan akhirnya, Joker menjadi penjahat yang hebat bukan karena ketawanya yang khas, atau tindakannya yang tak terduga. Dia hebat karena dia memiliki pengaruh yang mendalam di cerita dan bagi tokoh protagonis. Dia mengungkapan porsi Batman dalam sebuah niatan untuk kota Gotham.
***

Jumat, 08 Juli 2016

Why We Work - disadur dari TED Talk Barry Schwartz

    Prof Barry Schwartz adalah pemerhati kaitan antara psikologi dan ekonomi. Pada TED Talk september 2015, dia mengangkat topik yang menurut saya menarik: kenapa kita bekerja?. Tulisan dibawah adalah hasil saduran dari video podcast TED Talk Prof Barry dan beberapa informasi lain dari bukunya Why We Work.

    Kenapa kita bekerja?
  Kebanyakan jawabannya adalah untuk mendapatkan uang(dibayar).  Tetapi kenapa ketika kita bertanya alasan bekerja pada orang yang puas dengan pekerjaannya, uang hampir tidak pernah muncul pada urutan pertama. Ada begitu banyak alasan menarik yang pertama muncul jika ditanyakan pada mereka yang antusias dengan pekerjaannya. Dan kesimpulannya akan bermuara pada "apa yang mereka kerjakan itu berarti". Kita tahu imbalan material bukan alasan yang bagus untuk melakukan pekerjaan kita. 

   Tetapi kenapa kebanyakan orang ini mau melakukan pekerjaan yang tidak punya karakteristik. Kenapa kita melakukan pekerjaan yang monoton tanpa arti dan mematikan jiwa? Kenapa begitu kapitalisme berkembang, menciptakan moda produksi untuk barang dan jasa, justru kepuasan non-material yang mungkin muncul dari pekerjaan menjadi hilang?. Pekerjaan seperti dipabrik, penggilingan, atau gudang, hampir tidak alasan lain untuk melakukan pekerjaan mereka, selain untuk uang. Kenapa?

   Jawabannya adalah 'teknologi ide'. Kita tahu, selain menciptakan sesuatu yang baru, ilmu pengetahuan juga menciptakan ide. Ide(pemahaman) yang dibuat adalah cara untuk memahami diri kita sendiri yang memiliki pengaruh besar terhadap cara pikir kita, cita-cita kita dan cara kita bertindak. Misalnya,jika anda berpikir kemisikinan adalah kehendak Tuhan, maka anda berdoa. Jika anda berpikir kemiskinan adalah hasil dari kesalahan anda, anda tenggelaman dalam keputusasaan. dan jika anda pikir kemiskinan adalah hasil dari penindasan dan dominasi maka anda bangkit untuk berontak. Apapun respon kita, itu tergantung dari bagaimana kita memahami sumber dari kemiskinan itu. Inilah peran ide dalam membentuk kita menjadi manusia. Oleh karena itu teknologi ide adalah teknologi paling penting yang diberikan ilmu pengetahun kepada kita.

    Menariknya ada hal yang penting pada teknologi ide. Ide atau pemikiran buruk tentang umat manusia tidak akan hilang jika orang percaya ide itu benar. Jika manusia percaya itu benar, maka mereka membangun hidup yang konsisten dengan pemikiran yang salah itu. Dan begitulah revolusi industri menciptakan sebuah sistem pabrik yang tidak memungkingkan anda untuk keluar dari rutinitas kerja anda, kecuali untuk memperolah bayaran. Karena bapak revolusi industri, Adam Smith yakin bahwa pada dasarnya manusia adalah mahluk pemalas dan tidak melakukan apapun kecuali anda membuat mereka bekerja dan caranya adalah dengan memberi insentif/upah. Itulah satu-satunya alasan seseorang melakukan sesuatu. Jadi kita membuat sistem pabrik atas pandangan salah tentang manusia. Namun setelah sistem produksi tersebut dibuat, orang-orang tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, kecuali dengan cara yang konsisten dengan pemikiran Adam Smith. Inilah contoh bagaimana ide yang salah dapat menciptakan keadaan yang pada akhirnya mendorong ide itu menjadi benar. Tidak benar, bahwa anda "tidak bisa lagi menemukan pekerja yang bagus". Tapi bisa saja anda "tidak bisa lagi menemukan pekerja yang bagus" apabila anda memberikan orang pekerjaan yang merendakan dan tidak berjiwa. Perusahaan menciptakan orang yang sesuai dengan kebutuhan perusahaannya dan menghilangkan kesempatan mereka untuk memperolah kepuasan dari pekerjaan mereka. 

     Teori yang salah tentang sifat manusia telah memaksa lingkungan dan pekerjaan kita mengikuti ide yang salah itu secara konsisten. Kita dapat mengeluarkan teori fantastis tentang alam semesta, dan apapun teori itu alam semesta tidak akan terpengaruh oleh teori kita. Alam semesta akan tetap berjalan, walau bagaimanapun teori kita. Tapi kita harus khawatir akan teori yang kita yakini tentang sifat manusia. Karena sifat manusia akan berubah mengikuti teori kita, yaitu terori yang dibuat untuk menjelaskan dan membantu kita memahami umat manusia. Antropolog Clifford Geertz, mengatakan bahwa umat manusia adalah mahluk yang belum selesai. Maksudnya adalah sifat manusia merupakan produk dari ide masyarakat dimana manusia itu sendiri tinggal. Sifat manusia lebih banyak diciptakan dari pada ditemukan. Kita mendesign sifat manusia dengan membentuk institusi dimana orang tinggal dan bekerja. Untuk itu, kita perlu bertanya, sifat manusia seperti apa yang ingin kita ciptakan dilingkungan/institusi kita?


   
   Kapan bekerja itu menjadi baik?
   Disadur dari TED Taks Prof Barry dengan judul: Our loss of Wisdom
  Berikut adalah pekerjaan dari seorang pembersih di rumah sakit: membersihkan karpet, menyapu dan mengepel lantai; membersihkan urinal; memvacuum ruangan; membersihkan furniture; membersihkan jendela; mengosongkan bak sampah dan lainnya. Tak ada yang luar biasa dari semua pekerjaan yang tercantum disitu. Namun jika memperhatikan ada yang unik disana, tidak ada satupun tugas didalamnya yang melibatkan orang lain.
   
  Namun ketika beberapa pembersih ditanyai tentang pekerjaan mereka. Salah satunya Mike, mengatakan dia akan berhenti mengepel lantai karena Jones sedang turun dari tempat tidurnya untuk sedikit gerak badan dan mencoba menguatkan badannya dengan perlahan berjalan bolak-balik dilorong. Dan Charlene, petugas bersih lainnya, mengatakan dia tidak mengindahkan teguran atasannya dan tidak memvakum ruang tunggu pengunjung karena ada beberapa anggota keluarga yang setiap hari berada disana untuk tidur siang. Dan Luke, yang dua kali mengepel lantai kamar seorang pemuda yang sedang koma, karena ayah pemuda tersebut, yang telah menjaga anaknya selama enam bulan, tidak melihat saat luke mengepel saat pertama sekali dan dia marah.
 
   Perilaku seperti ini tidak hanya membuat orang merasa lebih baik, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan pasien. Kita harus akui, tidak semua pembersih seperti ini. Tetapi pembersih yang baik berpikir bahwa hubungan antar manusia seperti ini, yang melibatkan keramahan, kepedulian dan empati, adalah bagian penting dari pekerjaan. Walaupun dalam deskripsi pekerjaan mereka tidak ada satupun yang melibatkan orang lain. Para pembersih ini memiliki kemauan moral untuk berbuat baik pada orang lain, lebih lagi mereka memiliki kecakapan untuk menentukan arti "berbuat baik". Kearifan praktis adalah kombinasi antara kemauan moral dan kecakapan moral. orang bijak tahu kapan dan bagaimana membuat pengecualian dalam aturan, tahu kapan berimprovisasi.

    Masalah di dunia nyata seringkali multi-tafsir dan sulit didefinisikan dan konteksnya selalu berubah-ubah. Orang bijak itu seperti musisi jazz, membaca nada partitur tetapi bermain dengan sekelilingnya, mengarang kombinasi yang sesuai dengan situasi dan penonton yang ada saat itu. Orang bijak tahu bagaimana memakai kecakapan moral untuk mewujudkan tujuan mulia. Untuk melayani orang lain, bukan memanfaatkan orang lain dan terakhir orang bijak itu dibuat, bukan terlahir. Kearifan bergantung pada pengalaman dan bukan sembarang pengalaman. Butuh waktu untuk mengenal orang yang anda layani. Anda perlu izin untuk berimprovisasi, mencoba hal baru, terkadang gagal dan belajar darinya. Butuh bimbingan dari guru yang bijak. Jika anda bertanya pada pembersih yang bertindak seperti cerita diatas, seberapa sulitnya mempelajari pekerjaan mereka, mereka akan bilang bahwa diperlukan banyak pengalaman. Bukan pengalaman untuk mengepel lantai atau membersihkan bak sampah. Diperlukan banyak pengalaman untuk belajar cara peduli pada orang lain.

   Kabar baiknya anda tidak perlu pandai untuk menjadi bijak, kabar buruknya tanpa kebijaksanaan, kepandaian tidak cukup. Anda bisa membuat masalah dengan dengan diri anda dan orang lain. Bagaimana kita menulis aturan yang mendorong tindakan mulia para pembersih tadi? apakah anda memberikan bonus karena telah berempati? Aturan dan prosedur bisa saja bodoh, tapi karenanya anda tak perlu berpikir. Kita semakin bergantung pada aturan. Aturan dan insentif mungkin akan memperbaiki keadaan dalam waktu singkat, tetapi juga menciptakan pusaran untuk tenggalam pada waktu lama. Kecakapan moral terkikis habis oleh ketergantungan pada aturan yang mengurangi kemampuan kita untuk berimprovisasi dan belajar dari improvisasi kita dan juga menghancurkan keinginan kita untuk melakukan hal yang benar. Dan dengan aturan dan insentif kita tengah berperang melawan kearifan.

   Sifat pendidikan juga terjadi hal yang sama. Kurikulum yang tertulis jelas, hingga langkah demi langkah sehingga semua guru mengikuti aturan dan siswa menerima hal yang sama. Kita tahu kenapa naskah kurikulum ada. Kita tidak cukup percaya pada pertimbangan guru, untuk membiarkan mereka bebas mengajar. Naskah semacam ini adalah polis asuransi untuk mengantisipasi bencana dan naskah ini memang mencegah bencana. Tetapi juga menggantikannya dengan miskinnya prestasi.  Jangan salah paham, kita butuh aturan. Musisi Jazz butuh catatan nada. Tapi kita tahu terlalu banyak aturan akan menghambat musisi jazz untuk mengasah kemampuan mereka atau mereka malah berhenti bermain musik.

   Jika kita punya satu alasan untuk melakukan sesuatu, kemudian memberikan alasan kedua untuk melakukan hal yang sama, apakah anda akan lebih bersemangat melakukannya? bukankah logis jika dua alasan lebih baik daripada satu dan anda terpacu. Terkadang tidak seperti itu, dua alasan untuk melakukan hal yang sama sepertinya bersaing dan bukannya saling mendukung dan justru memperkecil kemungkinan orang untuk melakukannya. Contohnya, di Swiss, 15 tahun yang lalu, mereka mencoba memutuskan dimana tempat membuang limbah nuklir dan kemudian dilakukan referendum nasional. Psikolog melakukan wawancara terkait isu ini dengan bertanya, bersediakah jika lingkungan anda menjadi tempat pembuangan limbah nuklir? menariknya 50 persen setuju. Mereka tahu itu berbahaya, itu akan menurunkan harga rumah mereka. Tapi limbah itu harus dibuang disuatu tempat dan mereka bertanggung jawab sebagai warga negara. Psikolog juga menanyakan kelompok lain, dengan pertanyaan, jika kami bayar anda dengan gaji 6 minggu setiap tahun apakah anda mau lingkungan anda menjadi tempat pembuangan limbah nuklir? dua alasan, itu tanggung jawab saya dan saya dibayar. Bukannya 50 persen yang setuju, hanya 25 persen yang setuju. yang terjadi adalah ketika kita diberi insentif, kita bukan bertanya lagi apa tanggung jawab saya? tetapi apa yang paling menguntungkan buat saya. Insentif tidak berpengaruh jika pemilik perusahaan tak menghiraukan kelangsungan jangka panjang perusahaan mereka karena mengejar keuntungan jangka pendek untuk menghasilkan bonus fantastis. Insentif berlebihan akan mendemoralisasi aktifitas profesional.

   Tentu ada harapan, kita harus mencoba re-moralisasi kerja. salah satu caranya adalah mengajarkan lebih banyak etika. dan contoh nyatanya : hargai contoh moral yang baik. Manusia selalu terinspirasi oleh pahlawan moral. tetapi kita belajar seiring dengan pendewasaan datang pengertian bahwa kita tak boleh mengakui bahwa kita mempunyai pahlawan moral. Tetapi akuliah, rayakanlah pahlawan moral anda. orang terbijak dan memiliki nilai yang baik akan menyerah jika mereka harus berenang melawan arus diorganisasi mereka. Karena semua pekerjaan selalu melibatkan hubungan dengan manusia lain adalah pekerjaan moral. dan setiap pekerjaan moral bergantung pada kearifan praktis. 

Selasa, 05 Juli 2016

Internet membuat kita berpikir dangkal? - disadur dari The Shallows by Nicolas Carr

"Dulu, saya seorang yang gila baca. Kini, saya hampir kehilangan kemampuan membaca dan menyerap artikel yang agak panjang di web maupun media cetak" - Scott Carp.

   Jadi sebelum memulai pembahasan ini. Pertanyaan sederhana: apakah anda masih sanggup membaca dalam waktu yang cukup lama, sejam misalnya? apakah ketika membaca artikel yang panjangnya diatas 1000 kata masih tetap sabar mengikuti atau mata dan tangan mulai tidak sabaran, ingin pindah tab; baca notif di sosial media; buka chat di hp atau melakukan yang lain? jika tidak, maka untuk tidak membuang waktu, konklusinya adalah internet secara pasti telah merubah cara berpikir kita. Internet mengajarkan cara agar bisa multitasking; tidak sabaran untuk melakukan hal lain; terbiasa dengan interupsi; dan menurukan daya serap informasi dari sebuah bacaan.Internet memang memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita dalam berpikir secara mendalam.

    Namun jika masih sanggup, berikut penjelasan detail yang saya sadur dari buku The Shallows oleh Nicholas Carr. Salah satu nominasi Pulitzer Award 2011 untuk kategori General Nonfiction: Benarkah internet mendangkalkan cara berpikir kita?

    Media adalah pesan
   Secara harafiah The Shallows menyiratkan orang-orang yang cara berpikirnya menjadi dangkal setelah terlalu dimanjakan oleh internet. Kalangan ini lalu dicirikan sebagai orang yang tak sabaran, yang tak tahan lama-lama membaca buku tebal atau artikel panjang. Yang bertele-tele dan lama sudah tak mendapat tempat lagi. Ada dua pendapat mengenai masalah ini. Pertama, mereka yang meyakini bahwa masalah diatas murni adalah kesalahan pengguna internet. Mereka percaya bahwa teknologi hanyalah alat yang tidak berdaya sampai kita menggunakannya dan lebih tidak berdaya lagi saat kita menyingkirkannya. Mengedukasi pengguna adalah solusinya. Kedua, mereka yang percaya bahwa dalam jangka panjang konten teknologi tidak lebih penting daripada teknologi itu sendiri dalam memengaruhi bagaimana kita berpikir dan bertindak. Media membentuk apa yang  kita lihat dan bagaimana kita melihanya, jika kita cukup sering menggunakannya, ia akan mengubah siapa diri kita. Kita terlalu terpana dan terpesona pada hiburan sehingga tidak memerhatikan apa yang terjadi di kepala kita. Akhirnya kita berpura-pura bahwa teknologi tidaklah penting. Pandangan kedua inilah yang menjadi perhatian penulis.
    
   Dulu begitu mudah untuk tenggelam ke dalam buku atau artikel panjang. Pikiran saya akan hanyut ke dalam seluk-beluk cerita. Tapi kini? berbeda. Saya mulai kehilangan fokus pada halaman pertama atau kedua. Saya mulai gelisah, kehilangan fokus dan mencari aktivitas lain. Entah saat online atau tidak, kini pikiran saya berharap untuk menerima informasi seperti cara internet mendistribusikannya. Cepat dan singkat. Kebanyakan orang akan mengakui bahwa dia menjadi pembaca yang tidak sabaran namun menemukan diri mereka merasa lebih cerdas dan begitu gembira karena semakin banyak koneksi informasi yang didapatkan. Disinilah masalahnya, kemampuan untuk berpikir linear(berpikir secara sistematis, terarah dan memiliki tujuan serta bernalar) dan membaca sastra menjadi menurun, karena keduanya membutuhkan proses waktu yang lama dan teks yang panjang. Padahal pemikiran linear dan sastra telah menjadi inti dari seni, ilmu, dan masyarakat. Dengan lentur dan lembut, pemikiran semacam ini telah menjadi pemikiran imajinatif pada masa Renaisans Eropa, pikiran rasional dimasa pencerahan, pikiran inventif dimasa revolusi industri dan pikiran memberontak dimasa modernisme.
    
    Teknologi intelektual
   Kedewasaan intelektual kita sebagi individu bisa dilihat dari cara kita membuat gambar. Awalnya kita menggambar dari ingatan harafiah tentang fitur tempat disekitar kita, gunung sungai dan pohon.  Kemudian kita menggambar ruang dan topologi geografis serta lebih abstrak. Kita menggambar dari apa yang kita lihat menjadi apa yang kita tahu. Begitu juga dengan jam, alat ini digunkan untuk menerjemahkan konsep artifisial terhadap waktu. Internet adalah bagian dari teknologi intelektual dimana teknologi ini digunakan untuk menopang kekuatan pikiran kita. Teknologi intelektual juga memiliki etika intelektual yaitu serangkaian asumsi bagaimana cara kerja pikiran manusia atau seharusnya pikiran bekerja terhadap teknologi itu.
 
    Kita menyadari salah satu lompatan sejarah intelektual adalah penemuan alfabet. Dimulai pada 8000 SM ketika manusia pertama sekali menggunakan simbol untuk menghitung jumlah hewan. Kemudian penemuan dan penggunaan alfabet(walaupun belum selengkap sekarang) secara luas oleh masyarakat Yunani sekitar 400SM dan mengakibatkan munculnya beragaman media untuk menulis seperti daun papirus atau kulit hewan. Pada pada perkembangananya di tahun 1440an, mesin cetak ditemukan, terjadilah ledakan pertumbuhan cetakan tulisan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sampai pada akhirnya kita masuk ke jenis media baru diakhir tahun 1800an, dimana radio kemudian televisi mengubah cara orang untuk mendapatkan informasi. Kemudian internet ditahun 1990an digunakan secara luas. 
 
   Ekosistem Teknologi Interupsi
  Internet unik dibandingkan dengan media lain. Internet bersifat dua arah. Kita dapat mengirim dan menerima informasi pada saat yang bersamaan. Namun sayangnya, internet juga bersaing untuk mendapatkan perhatian kita. Ketika kita membuka gadget, kita tercebur ke dalam "ekosistem teknologi interupsi". Interaksi, link, kemudahan pencarian dan multimedia telah membawa volume informasi pada tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, apabila akses ke informasi menjadi mudah, kita cenderung menyukai bagian yang pendek, yang manis dan yang sedikit. Ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu. Internet merampas perhatian kita hanya untuk mencecerkannya. Interupsi ketika membaca informasi dapat dilihat ketika kita menemukan link pada tumpukan teks di web, pada sepertian sekian detik, kita memberikan kesempatan pada korteks prafontal(bagian depan otak yang aktif) untuk mengevaluasi apakah perlu meng-klik link tersebut atau tidak. Sifat asli dari pikiran pembaca adalah tidak merangsang indera, tenang dan menyelemai pikiran mendalam dan bukan mengaktifkan otak untuk bagian pemecaran masalah. Namun internet mengajarkan sebaliknya.

   Informasi (muatan kognitif)yang masuk ke dalam memori aktif kita , yang kita terima melebihi kemampuan pikiran kita untuk menyimpan dan memproses informasi, maka kita tidak bisa menyimpan informasi atau menarik kaitan informasi tersebut dengan memori jangka panjang. Akhirnya kita tidak mampu untuk menerjemahkan informasi baru itu kedalam skema yang ada dalam pemikiran kita. Kemampuan belajar kita menurun drastis dan pemahaman kita tetap dangkal. Kita semakin sukar untuk membedakan antara informasi yang relevan dengan yang tidak relevan, kita menjadi konsumen data yang tak punya otak. Untuk memahami bagaimana sebenarnya pengalaman membaca diinternet dapat dilakukan dengan membaca buku dan disaat yang bersamaan mengerjakan teka-teki silang.

   Interupsi hiperteks telah membawa kita pada pemahaman yang baru. Ada penemuan yang menyebutkan bahwa pemehaman kita menurun seiring meningkatknya jumlah link pada sebuah artikel. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan jargon bahwa hiperteks akan menggiring ke arah pengalaman yang kaya akan teks, hiperteks akhirnya mengurangi kinerja membaca kita. Hiperteks dan hal lain, telah menyedot sumber daya mental kita. Ketika kita membaca dan teralihkan maka akan dibutuhkan lebih banyak energi untuk kembali melakukan reorientasi terhadap teks bacaan tersebut. Namun sayangnya, keluar dari media interupsi tersebut bukanlah pilihan yang dipertimbangkan kebanyakan kita.

   apakah kita, benar-benar membaca ketika melakukan browsing? jawabanya adalah tidak. Kita membaca artikel seperti pola huruf F. Membaca paragram pertama, kemudian paragram keduan dan melompat kebawah, tanpa mendalami tulisan tersebut. Kita tidak fokus, tidak tenang dan banyak interupsi. Peralihan konstan perhatian ktia ketika sedang online, membuat otak kita lebih gesit dan sampai pada tahap multitasking, namun semakin meningkatnya multitasking, sebenarnya menghambat kemampuan kita untuk berpikir secara mendalam dan kreatif. Kebebasan kita akan berkurang dan semakin kurang kemampuan berpikir dan menalar sebuah persoalan. Akibatnya, makin cenderung bergantung pada berbagai gagasan dan solusi konvensional daripada menantang cara berpikir original(baru). Ketika kita melakukan multitasking online, kita melatih otak untuk memperhatikan sampah dan ini terbukti berpengaruh buruk untuk kemampuan intelektual kita.

      Kemana muaranya?
     Kita menyadari bahwa pengetahuan itu ada dua macam. Kita memahami sebuah subjek dan atau kita memahami di mana tempat menemukan informasi tentang hal itu. Dan kecerdasan kita tidak lebih baik dari para pendahulu kita. Kita hanya cerdas dalam hal yang berbeda. Kita harus seperti lebah. Kita harus menyimpan informasi diruang yang berbeda tentang apapun yang kita kumpulkan dari berbagai bacaan. Kemudian, setelah setelah dengan rajin menerapkan semua sumber daya bakat asli kita, kita harus mencampur  berbagai macam sari madu yang telah kita kecap, lalu mengubahnya menjadi zat yang manis, sedemikian rupa sehingga sekalipun jelas dari mana asalnya, akan tampak jauh berbeda dengan aslinya. Kita banyak menyimpan "pengetahuan mendalam yang sedikit" didalam benak kita. Dengan adanya teknologi baru, kita harus peka tentang apa yang hilang dan apa yang kita dapatkan.  Akhirnya, mungkin kita akan kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi pada sebuah tugas yang kompleks dari awal sampai akhir. Namun sebagai gantinya kita, memperolah keterampilan baru, misalnya melakukan beberapa percakapan secara bersamaan dari beberapa media berbeda. dan bukan berarti kita harus “menjauh” dari teknologi internet. Kita memang harus bijak dalam menggunakan suatu teknologi. Buku ini seperti sebuah peringatan agar pembaca tidak mengikuti begitu saja arus teknologi yang ada di sekitarnya.
 
    Catatan kaki:
    Fenomena yang diangkat penulis ini, sebenarnya terjadi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pernah membuka situs berita online? hampir keseluruhannya sama. Singkat, bombastis dan hampir tak ada isi(dangkal). Berbeda dengan koran cetak yang biasanya muatannya sudah melalui proses yang cukup panjang untuk sampai ketangan anda. Tentu dengan konten informasi yang lebih baik dari media online.
 
    Media sosial juga mengajarkan hal demikian,kita dihadapkan pada situasi dimana informasi yang diberikan itu harus singkat, dan tak bertele-tele. Kita hanya tau kesimpulannnya namun tak bisa menarik, akar pembahasannya. Belum lagi dengan fakta bahwa jumlah minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Bahkan kita tak sampai satu buku per orang per tahun. Dan di Asia Tenggara?, kita berada pada posisi paling bawah.

    Akhir-akhir ini sedang digalakkan untuk membaca e-book. Itu sangat baik, mengingat nilai ekonomis yang ditawarkan dan fleksibelitasnya. Namun, harus dipastikan bahwa e-book tersebut bebas dari interupsi. Jika tidak, maka hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Interupsi ini bisa berupa hipertext, iklan, atau media yang terinsall di gadget untuk membuka e-book tersebut.

   Note: hipertext dimaksudkan diatas adalah teknologi html, seperti link, popup atau slider text yang mengganggu konsentrasi kita.
***

Sabtu, 25 Juni 2016

Do Schools Kill Creativity - disadur dari TED Talk Sir Ken Robinson

    Salah satu channel youtube menarik adalah TED Talks. Channel ini menyajika video podcast dari TED Conference, yaitu tempat berkumpulnya para pemikir dan aktivis dunia yang di undang untuk berbagi pengalaman selama 18 menit. TED (Technology, Entertainment, Design) mengangkat topik tentang sains, bisnis, politik dan seni.

    Dan video yang paling banyak viewer di TED Talks adalah video dari Sir Ken Robinson tentang pendidikan. Sir Ken Robinson adalah penulis, pembicara dan penasihat pendidikan dari Inggris. Pada video ini dia mengangkat topik yang sering menjadi perdebatan dari masa ke masa, Apakah sekolah membunuh kreativitas?. Berikut adalah saduran dari Ken Robinson di website youtube: Do Schools Kill Creativity *mungkin agak membosankan karena teks semua, tetapi menarik untuk diikuti *

   Jika ditanya mengenai pendidikan, kebanyakan orang memiliki ketertarikan yang besar terhadap pendidikan sama seperti ketertarikan dengan agama dan uang. Hal ini karena kita sadar pendidikan membawa kita pada masa depan yang tidak dapat kita pegang. Bayangkan jika seorang memulai pendidikan tahun ini (2007) maka dia akan pensiun di tahun 2065 dan tidak seorangpun yang memiliki petunjuk, walaupun dengan semua pengalaman kita selama ini, bagaimana dunia akan terlihat bahkan hanya lima tahun kedepan sehingga ketidakpastian sangat luar biasa besar dan kita perlu belajar untuk itu. Kita juga percaya bahwa anak-anak memiliki kapasitas yang sangat besar untuk berinovasi. 
   
    Pendidikan dan Kreativitas
    Yang menjadi perhatian sekarang adalah bahwa kreativitas memiliki kepentingan yang sama dengan kemampuan bahasa dalam pendidikan dan keduanya harus diperlakukan sama. Ada sebuah pembicaran menarik tentang kreativitas. Di sebuah TK, ketika murid-muridnya diajak untuk menggambar, seorang guru tertarik dengan seorang gadis yang sedang fokus menggambar. Si guru menanyakan, "apa yang sedang kamu gambar?" "ini gambar dari Tuhan" jawab si gadis kecil. Kemudian si guru membalas "tapi tidak ada yang tahu seperti apa rupa Tuhan" kemudian gadis tersebut membalas "mereka akan tahu sebentar lagi". Dari contoh tersebut kita lihat bahwa ketika mereka tidak tahu, mereka akan terus maju, mereka tidak takut salah, mereka punya kreativitas. Namun ini tidak dimaksudkan bahwa salah sama dengan kreatif, yang kita tahu adalah ketika kita tidak siap untuk salah kita tidak pernah menemukan yang orisinil(hal baru). 
   
   Seiring waktu, anak tumbuh menjadi dewasa, mereka kehilangan kapasitas untuk kreatif. Mereka menjadi takut untuk salah. Dan kita menjalankan perusahaan seperti ini dimana kita menganggap kesalahan adalah hal yang buruk. Dan dalam dunia pendidikan, sistem mengajarkan bahwa kesalahan adalah hal terburuk yang dilakukan siswa dan hasilnya sistem pendidikan tersebut mengeluarkan siswa dari kapasita kreatif mereka. Picasso pernah berkata : "Setiap orang terlahir sebagai seorang seniman(artist), yang menjadi masalah adalah bagaimana kita tetap bisa sebagai seniman selama bertumbuh". Sederhananya adalah jika kita tumbuh tidak ke dalam kreativitas, kita terdidik keluar dari kreatifitas. Kenapa ini bisa terjadi?
    
    Sistem Pendidikan Saat ini 
    Semua pendidikan di dunia memiliki hierarki yang sama. Posisi teratas adalah matematika dan bahasa, kemudian kemanusiaan dan paling bawah adalah seni. Seni juga memiliki hierarki, seni rupa dan musik berada pada tempat teratas kemudian seni peran dan tari. Tidak ada satupun sistem pendidikan di dunia yang mengajarkan seni setiap hari sama seperti mengajarkan matematika. kenapa? padahal Saya pikir matematika penting, tetapi seni juga penting. Kita punya tubuh, jadi kenapa tidak dilatih. Seiring kita menjadi dewasa kita diajarkan secara progresif dari anggota tubuh pinggang sampai keatas dan akhirnya kita memfokuskan pada kepala(otak). 

   Jika kita ditanya, apakah sebenarnya tujuan dari pendidikan? kemungkinan kita akan berkata: dari melihat hasilnya, siapa yang paling berhasil, siapa yang menerima penghargaan. Dan pada akhirnya kita akan dipaksa bahwa hasil tertinggi dari pendidikan adalah profesor. Mereka adalah orang yang tampil paling atas. Namun kita tak seharusnya menganggap mereka sebagai puncak pencapaian pendidikan. Hal yang menarik tentang profesor adalah mereka hidup didalam kepala mereka. Mereka melihat tubuh mereka sebagai bentuk transportasi bagi kepala mereka. 
  
   Sekarang pendidikan kita dilandasi pada kemampuan akademis dan alasannya adalah sistem pendidikan publik belum ditemukan sampai abad 19. Sistem ini muncul untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi. Sehingga hierarki yang muncul dalam sistem pendidikan ada dua, pertama adalah subject yang paling berguna bagi pekerjaan ada pada urutan teratas. Jadi kita diarahkan untuk menjauhi hal tertentu ketika sekolah dulu, hal hal yang mungkin kita sukai, dengan dasar bahwa anda nantinya tidak akan mendapatkan pekerjaan dari hal tersebut. Namun sekarang hal tersebut terbukti salah dan kita sedang melakukan revolusi. Yang kedua adalah kemampuan akademis mendominasi cara pandang kita tentang kecerdasan, karena universitas mendesain sistem dengan citra mereka. Jika kita menganggap sekolah adalah persiapan untuk masuk universitas, maka akibatnya adalah banyak orang berbakat, cemerlang dan kreatif tidak bisa berbuat apa-apa, karena hal baik yang mereka lakukan selama disekolah tidak dihargai bahkan dianggap buruk. 
     
     Mengubah Konsep Tentang Kecerdasan
    Pada 30 tahun kedepan, menurut UNESCO, akan lebih banyak orang yang lulus dari pendidikan  tinggi dibadingkan dengan awal sejarah. Kemudian, tiba-tiba gelar(degree) menjadi tidak berharga. Dulu jika anda punya gelar, maka anda punya pekerjaan. Namun sekarang orang yang memiliki gelar, lebih banyak yang pulang dan bermain video game, karena sekarang anda butuh gelar Master untuk kerja, sedangkan dulu hanya butuh gelar sarjana dan kedepan anda butuh gelar PhD untuk pekerjaan lain. Ini adalah proses dari "inflasi akademik". Ini membuktikan bahwa struktur pendidikan telah bergeser. Kita perlu berpikir radikal tentang cara pandang kita terkait kecerdasan. 

    Kita tahu tiga hal tentang kecerdasan, pertama adalah beragam. Kita berpikir tentang dunia dengan visual yang kita rasakan. kita berpikir tentang suara, pengelihatan, abstrak,  kinetis dan lainnya. Kedua adalah dinamis. kecerdasana itu sangat interaktif. Otak tidak dipisahkan dalam ruang terpisah mereka terhubung oleh batang syaraf yang disebut(corpus callosum) dimana syaraf ini lebih tebal pada perempuan. Sama seperti yang dijelaskan bahwa arti kreatifitas adalah memilih ide orisinil yang memiliki nilai, dan kreatifitas tersebut lebih sering muncul dari dari interaksi antar disipliner berbeda yang melihat sesuatu dari sudut pandang yang beragam. Yang ketiga, kecerdasan itu istimewa. 
    
    Contohnya adalah Gillian Lynne seorang penata tari terkenal. Saya pernah bertanya bagaimana anda bisa menjadi penari? dia menjawab, ketika dia sekolah dia sangat putus asa. Ketika disekolah guru menuliskan pada orang tuanya bahwa Gillian memiliki kekacauan belajar, dia tidak bisa berkonsentrasi. Kemudian Gillian menemui spesialis bersama orangtuanya, dia duduk dikursi dalam sebuah ruangan selama 20 menit, saat orangtuanya berkonsultasi dengan spesialis. Kemudian dokter  tersebut berkata, "Gillian,saya telah mendengarkan semuanya dari ibu mu dan saya butuh berbicara dengannya. Jadi, tunggu disini, kami akan kembali, kami tidak akan lama." dan mereka pergi, tetapi saat mereka akan pergi, sang dokter menyalakan radio. Dan ketika mereka keluar, si dokter mengatakan pada ibunya "sinilah dan lihat gillian". Sesaat mereka meninggalkan Gillian, dia langsung bergerak mengikuti irama musik dan kemudian dokter mengatakan kepada ibunya, Ibu Lynne, Gillian tidak sakit, dia seorang penari. Bawa dia ke sekolah penari. Kemudian ibunya membawanya ke sekolah menari . Kemudian Gillian merasakan hal yang luar biasa, dia masuk keruangan yang penuh dengan orang yang sama dengan dia. Orang orang yang tidak dapat berdiri diam. Orang yang harus bergerak untuk berpikir. Mereka melakukan balet, tab, dan jazz. Mereka melakukan tari modern dan kontemporer. Hingga akhirnya Gillian mengikui audisi masuk ke Royal Ballet School. Kemudian menjadi solois dan memilih karir yang mengagumkan di Royal Ballet hingga lulus dan mendirikan perusahaannya sendiri. Kemudian dia ikut dalam beberapa karya  teater musikal yang sangat sukses dan dia memberikan hiburan pada jutaan orang. 

  Saya berpikir bahwa satu-satunya harapan kita untuk masa depan adalah mengadopsi sebuah konsep baru tentang ekologi manusia, dimulai dengan mengubah konsep kita tentang kekayaan kapasitas manusia. Sistem pendidikan kita telah menambang pikiran kita seperti kita menambang isi perut bumi  yaitu untuk komoditas tertentu. Dan kedepannya, hal ini tidak akan memberikan apa apa. Kita harus memikirkan ulang tentang prinsip dasar bagaimana kita mendidik anak anak kita. Ada sebuah kutipan dari Jonas Salk yang berkata "jika serangga hilang dari bumi, maka dalam 50 tahun kehidupan didunia akan berakhir. Jika semua manusia hilang dari bumi, maka dalam 50 tahun semua bentuk kehidupan akan sejahtera".

***

Kamis, 16 Juni 2016

Why Your Life Is Not A Journey - Alan Watt

  
   Saduran dari Alan watt (Why Your Life Is Not A Journey).

  Alam semesta(termasuk kehidupan didalamnya) pada dasarnya adalah bermain (playful). Alam semesta tidak sedang pergi kemanapun. Tidak juga memiliki tujuan destinasi yang harus sampai dimana ada satu titik garis yang dilewati dan berakhir. 

  Cara terbaik memahami alam semesta adalah dengan analogi musik karena musik adalah bentuk seni yang esensinya bermain. Itu kenapa kita mengatakan bermain piano bukan mengerjakan piano. Musik berbeda dengan perjalanan(journey). Perjalanan itu proses yang sedang berlangsung menuju satu tempat atau satu titik dan selesai. Musik, pada dasarnya berbeda, satu musik bukan berarti akhir dari komposisi (karangan lagu). Orang-orang pergi ke konser untuk mendengar nada-nada lagu itu saja. Mereka datang bukan karena ada satu alasan diakhir. Sama dengan dansa, kita tidak sedang menuju satu titik tertentu di sebuah ruangan. Inti dari berdansa adalah dansa. 

   Tapi kita tidak melihat itu sebagai hal yang dibawakan dalam pendidikan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita memiliki sistem pendidikan yang memberikan kesan yang berbeda. Semuanya bertingkat. Kita menempatkan anak-anak pada sebuah koridor sistem bertingkat. Kita masuk TK, untuk menyelesaikannya dan masuk ke tingkat pertama, kemudian ketingkat kedua dan berlanjut hingga kuliah dan lulus. Kemudian bergabung dengan dunia nyata dan bekerja. Kita masuk dalam sebuah jaring dimana kita mencari asuransi masa tua kita. Kita selalu bersemangan dengan menunggu hal yang hebat akan datang. Kesuksesan dimana kita bekerja. Dan pada suatu hari kemudian bangun diumur 40an dan mengatakan. My God, I',m arrived. I'm there. I'm success. Dan kita sadar, bahwa kita tidak merasa terlalu berbeda dengan apa yang pernah kita rasakan. Akhirnya pensiun dan pada umur 65 tidak memilih energi yang tersisa. Dan semakin kurang penting. 

  Karena sederhananya kita menipu diri kita. Kita memikirkan arti hidup dengan menganalogikannya dengan perjalanan(journey). Sebuah jiarah(pilgrimage) kita memiliki tujuan penting di akhir dan fokus untuk sampai pada akhir tersebut. Bisa Sukses atau yang lain sesuai dengan apa yang terbentuk dibenak kita.

  Tapi kita luput dari nilai dari seluruh perjalan kita. Yaitu hal musikal kita dimana kita seharusnya berdansa atau bernyanyi ketika musik sedang dimainkan.